Sabtu, 17 Maret 2012

GERAKAN PENTERJEMAHAN DI MASA ABBASIYAH MODAL AWAL ILMU PENGETAHUAN




Makalah

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah
Sejarah Sosial Pendidikan Islam
Yang dibina oleh Prof. Dr. Miftah Arifin, M.Ag.




 





Oleh:

IDRIS MAHMUDI, Amd.Kep; S.Pd.I.


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN ISLAM
KONSENTRASI PEMIKIRAN ISLAM
PROGRAM PASCA SARJANA
STAIN JEMBER
Desember, 2011

A.    Latar Belakang
Tulisan singkat ini dimaksudkan membedah kegemilangan masa dinasti Abbasiyah dimana puncaknya adalah saat terjadi proses penterjemahan karya-karya ilmuan klasik terutama filosof imperium Yunani. Sejarah islam ditandai oleh berbagai vareasi jatuh-bangun dan naik-turun kekuatan politik kaum muslimin. Namun supremasi mereka atas golongan non-muslim di semua bidang, termasuk bidang ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), tetap bertahan bahkan masa-masa titik paling rendah kekuatan politik dan militer mereka. (Madjid, 2009 : 9-10). Hal ini menjadi starting point bagi peradaban dunia islam terutama dalam sains, pendidikan islam, ketatanegaraan, hukum dan lain-lain. Tulisan ini merupakan tugas perkuliahan program pasca sarjana di STAIN Jember untuk mata kuliah Sejarah Sosial Pendidikan. Dengan tulisan ini diharapkan proses perkuliahan dan diskusi semakin hidup dan dinamis.
B.     Pembahasan.
Cikal bakal ilmu pengetahuan dalam islam sudah berlangsung beberapa abad yang lalu, puncaknya justru di zaman klasik dimana saat itu barat (Eropa) masih dalam zaman kegelapan (The Dark of Age). zaman kegelapan Eropa itu terjadi penyebab terbesarnya adalah dominasi serta ortodoksi gereja yang kemudian berselingkuh dengan kerajaan/kaisar yang melahirkan doktrinasi sistem keyakinan. Doktrinasi itu membunuh rasionalitas para pemikir dan filosof yunani saat itu. Disaat itulah peradaban islam tampil dengan mempelajari karya-karya pemikir dan filosof barat. Pada zaman pra-modern, tidak ada masyarakat manusia yang memiliki etos keilmuan yang begitu tinggi seperti pada masyarakat muslim. Tentu perbedaan bahasa menjadi kendala tersendiri bagi bayi peradaban islam. Oleh karena itu dilakukan gerakan penterjemahan (transliterasi) agar mampu diserap alam pikiran yunani dari sumbernya langsung.
Ciri masyarakat islam klasik ialah etos keilmuannya yang amat tinggi. Etos keilmuan itulah yang kelak diwariskan oleh peradaban islam kepada barat, kemudian dikembangkan oleh barat begitu rupa, sehingga mereka justru mendahului kaum muslim memasuki zaman modern, dan membuat kaum muslim dalam kesulitan yang tidak kecil. (Madjid, 2009 : 11 dan 13). Setelah sekian lama islam memimpin peradaban, barulah barat belajar ke timur dan mempelajari karya-karya pendahulu mereka sendiri dari kitab-kitab ulama islam yang telah diramu dan memiliki warna tersendiri. Bahkan Kneller melukiskan :
”in 1000 A.D. Europe was so backward that it had to borrow the islamic sciences wholesale, translating Arabic writings into Latin”.
Pada tahun 1000 M Eropa begitu mundurnya sehingga harus meminjam ilmu pengetahuan islam secara keseluruhan dengan menerjemahkan karya-karya bahasa Arab ke bahasa Latin. (Madjid, 2009 : 14).

Disitulah justru barat merangkak naik melalui start renaisance sementara islam terjebak dalam mistisisme/tasawuf hingga mulai tenggelam lagi. Ibarat sebuah pohon rindang, maka proses penanaman bibitnya terjadi di zaman Rosululloh, perawatannya terjadi dizaman dinasti Ummayah dan berbunga serta panen buahnya di zaman dinasti Abbasiyah. Dengan nada indah Max I Dimont melukiskan :
“in science, the Arabs outdistanced the Greeks. Greek civilization was in essence a lush garden full of beautiful flowers that bore little fruit. It was a civilization rich in philosophy and literature, but poor in techniques and the technology”.
Dalam hal ilmu pengetahuan, bangsa Arab muslim jauh meninggalkan bangsa Yunani. Peradaban Yunani itu dalam esensinya adalah ibarat sebuah kebun subur yang penuh dengan bunga-bunga indah namun tidak banyak berbuah. Peradaban Yunani itu adalah suatu peradaban yang kaya dalam filsafat dan sastra, tapi miskin dalam teknik dan teknologi. (Madjid, 2009 : 15).

Penerjemahan karya-karya Yunani kuno sudah dirintis oleh seorang anggota Bani Ummayah Kholid Ibnu Yazin di Syiria, dan mencapai puncaknya pada zaman Bani Abbas di masa kekholifahan Harun Ar-Rosyid dan anaknya Al-Makmun. (Madjid, 2009 : 3). Puncak transliterasi filsafat dan ilmu-ilmu pendidikan terjadi pada zaman dinasti Abbasiyah khususnya dibawah pemerintahan kholifah Al-Makmun (811-833 M) dimana salah satu orang-orang penterjemahnya adalah Yuhana Ibnu Musyawih dan Hunain Bin Ishaq. (Khudhori, 2004 : xvii). Di zaman itu iklim intelektualisme sangat mengagumkan. Gerakan intelektual itu ditandai oleh proyek penerjemahan karya-karya berbahasa Persia, Sanskerta, Suriah dan Yunani ke dalam bahasa Arab. (Hitti, 2010 : 381). Tiga per empat abad pasca berdirinya Baghdad, dunia literatur Arab telah memiliki karya-karya filsafat utama Aristoteles, karya para komentator Neo-Platonis, tulisan-tulisan kedokteran Galen, juga karya-karya ilmiah Persia dan India. (Hitti, 2010 : 382).
Dimasa peradaban islam klasik ada 3 ilmu yang sangat berkembang pesat, yaitu : Teologi (yang menyangkut Tuhan), ilmu hukum islam (fikih yurisprudensi) dan sains terutama ilmu perhitungan. Untuk perkembangan ilmu fikih/yurisprudensi di zaman Abbasiyah ada 2 :
1.      Ortodox, dimana tokohnya terwakili oleh Abu Hanifah, Malik, Syafi’i, Hambali, Thobari dan Dawud Zhahiri.
2.      Kurang Ortodox, dimana tokoh-tokohnya terwakili :
  1. Ibnu Hayyan (721-815 M) ahli kimia.
  2. Al-Khowarizmi (780-850 M) ahli Matematika.
  3. Al-Kindi (806-875 M) ahli filsafat, terkenal sebagai penerjemah dan juga digelari sang komentator dari karya-karya Aristoteles.
  4. Tsabit Bin Qurroh (833-911 M) ahli geometri.
  5. Al-Battani (858-929 M) ahli astronomi.
Saat kholifah Al-Mutawakkil menjabat, ia mendukung kubu ortodoksi dan memecat Al-Kindi dari jabatannya. Diantara alasan kaum ortodox adalah :
1.      Takut sains Yunani menguasai islam dan orang-orang islam kurang rasa hormatnya pada Tuhan.
2.      Mayoritas yang mempelajari ilmu sains adalah non-muslim.
3.      Melindungi umat islam dari pengaruh faham lain. (Hitti, 2010 : 63).
Perkembangan ilmu pengetahuan dizaman Abbasiyah ditandai dengan adanya proses penterjemahan/gerakan transliterasi. Puncak gerakan transliterasi adalah pada masa kholifah Al-Makmun. (Hitti, 2010 : 62). Kholifah Al-Makmun hunting/memburu karya-karya Yunani dan membangun Baitul Hikmah. (Hitti, 2010 : 386). Penerjemahan berlangsung seabad (mulai 750 M) dan berpusat di Baitul Hikmah. Tokoh kunci yang dipercaya kholifah adalah Hunayn bin Ishaq. Ia seorang penganut sekte Ibadi (pemeluk Kristen Nestar dari Hiroh), dia selaku ketua penerjemah. Dari Hunayn lahirlah tim penerjemah yang banyak diantaranya :
  1. Yahya Al-Balmaki (wafat 857 M).
  2. Yuhana ibnu Musyawaih seorang Suriah kristen.
  3. Muhammad bin Ibrahim Al-Fazafi menerjemahkan Sinddhanta dari bahasa India ke bahasa Arab sehingga lahirlah ilmuwan Al-Khowarizmi.
  4. Al-Fadhl bin Nawbakhti (wafat 815 M) kepala lembaga pustaka Ar-Rosyid menerjemahkan karya dari bahasa Persia ke bahasa Arab.
  5. Ibnul Muqoffa, juga penerjemah. Seorang Zoroaster yang memeluk islam tapi kemudian dibakar hidup-hidup (757 M) karena dituduh menyimpang dari paham ortodox. (Hitti, 2010 : 384).
  6. Abu Yahya bin Bathriq penerjemah langsung dari bahasa Yunani ke bahasa Arab.
  7. Tsabit bin Qurroh (836-901 M) adalah orang Saba penyembah berhala juga seorang penerjemah. (Hitti, 2010 : 391).
  8. Al-Battani (wafat 929 M) juga orang Saba penyembah berhala yang telah masuk islam.
  9. Al-Hajjaj bin Yusuf bin Mathar (486-833 M).
  10. Abul Wafa’ dan Quatha bin Luqa, seorang Kristen dari Baklabak.
  11. Yahya bin Adi dan Abu Ali Isa bin Zur’ah. Yahya adalah uskup tertinggi di gerejanya dari sekte Yakobus/Monofit. Ia menyalin dan menerjemahkan rata-rata 100 lembar/hari.
Corak peradaban islam dipengaruhi oleh 3 peradaban besar sebelumnya, yaitu :
  1. Budaya Yunani yang dikenal dengan kebudayaan Helenisme dan mewakili sisi rasional. Dimana Yunani yang Helenis sebelumnya dipengaruhi oleh kebudayaan Mesir kuno, Babilonia, Phonisia dan Yahudi.
  2. Budaya India yang mewakili corak mistisisme.
  3. Budaya persia yang mewakili corak relegius/spiritualis.
Ketiga kebudayaan/peradaban tersebut yang sangat berpengaruh bagi tumbuhnya peradaban islam hingga zaman keemasan islam menjadi pintu masuk masa reanisance dan melahirkan kebudayaan serta peradaban Eropa sampai sekarang. Oleh karenanya proses transliterasi di masa itu terjadi dari bahasa Yunani ke bahasa Suriah atau Syiria baru ke bahasa Arab. Namun juga transliterasi bisa langsung dari bahsa Yunani ke bahasa Arab karena adanya Hunayn bin Ishaq dan Abu Yahya bin Bathriq. (Hitti, 2010 : 382, dan Khudhori, 2004 : xvii dan xxviii).
C.    Penutup
Demikianlah keemasan dan kegemilangan peradaban Islam dimasa lalu yang hendaknya menjadi teladan untuk kebangkitan islam di hari ini setelah luluh lantak pasca serangan tentara Mongol (Hulagu Khan). Di masa klasik barat dalam masa kegelapan dan islam di timur cemerlang hingga menyinari barat (Eropa khususnya Inggris dan perancis) karena kerendahan hati barat untuk menimba ilmu ke timur. Pasca renaisance, barat justru gemilang dan islam mulai mundur serta terpuruk hingga saat ini (puncaknya adalah saat runtuhnya kekholifahan islam Turki Usmani di tahun 1924 M). Tanpa apriori, hendaknya islam hari ini belajar kembali pada kecemerlangan dan kebangkitan barat. Islam harus menekan ego dan antipatinya kepada barat. Harus rela mendudukkan diri menjadi murid kepada barat dengan nalar yang kritis, dalam arti menyerap yang baik dan meninggalkan atau menyaring yang dianggap buruk. Itulah arti dari dialog peradaban. Jika di barat dengan thesisnya Max Weber ”The Protestan ethics and the spirit of capitalisme” mampu mengubah kegelapan barat, maka ilmuwan muslim harusnya membuat starting point agar terjadi thesis baru ”The Islam ethics and the spirit of science’s and capitalisme” melalui Al-Qur’an dan teladan kejayaan masa lalunya.

DAFTAR PUSTAKA

 Langgulung, Hasan. Asas-Asas Pendidikan Islam, Pustaka Al-Husna Baru, 2008. Jakarta.
 Hitti, Philip P. History of the Arabs, PT Serambi Ilmu Semesta, 2010. Jakarta.
 Sholeh, A Khudori. Warna Baru Filsafat Islam, Pustaka Pelajar, 2004. Yogyakarta.
Madjid, Nurcholish. Kaki Langit Peradaban Islam, Paramadina, 2009. Jak

0 komentar:

Poskan Komentar